Di dunia proyek pemberdayaan masyarakat (sering disebut CDD, dari Community-Driven Development) ditemukan
suatu hubungan yang hampir selalu terbalik. Dasar pemberdayaan adalah
kegiatan dimiliki masyarakat. Hak memiliki keputusan dan hak menentukan
nasibnya sendiri merupakan hak yang telah diberikan oleh Tuhan kepada
manusia. Akan tetapi masyarakat mengalami kehadiran orang luar untuk
mengawasi kegiatan. Bukankah lebih sesuai jika masyarakat sendiri
mengawasi orang-orang yang bekerja pada kegiatan yang dimiliki
masyarakat?[1]
Tanggung
jawab kegiatan dipegang oleh kedua belah pihak. Masyarakat bertanggung
jawab kepada siapapun yang memberi dana bantuan, sebab penyandang dana
akan melihat dan menilai bagaimana dana tersebut digunakan dan apakah
tercapai sesuai tujuan yang telah direncanakan atau ditetapkan. Tetapi
salah satu hal yang belum biasa di dunia "Supervisi Tidak Terbalik"
adalah membuat pemberi jasa (termasuk fasilitator) bertanggung jawab
atas kegiatannya dan hasil. Orang lain yang dikontrak untuk berjasa
kepada masyarakat biasanya harus bertanggung jawab. Seseorang yang
dikontrak untuk menggali sumur pasti bekerja dengan baik sesuai dengan
perintah. Seseorang yang telah dikontrak untuk memperbaiki kendaraan
mengerti bahwa mobil harus diperbaiki sesuai pesanannya sebelum dia
dibayar ongkosnya. Jadi Supervisi Terbalik berarti masyarakat mengawasi
fasilitator yang bertangung jawab terhadap pekerjaannya. Hal ini bukan
berarti bentuk keuntungan yang dilimpahkan pemerintah untuk memberikan
pencerahan kepada masyarakat sebagai wujud dari pengabdiannya, akan
tetapi hal ini merupakan hak masyarakat.
Apakah ada keuntungan jika masyarakat menjadi supervisor? Walaupun
pekerjaan supervisi merupakan pekerjaan yang melelahkan, tetapi ada
manfaat yang jelas bagi masyarakat sebagai supervisor. Pertama,
munculnya transparansi yang akan membuat fasilitator menjadi lebih jelas
tentang apa yang diharapkan dari masyarakat. Jika semua permintaan atau
tuntutan disampaikan secara transparan, maka dengan mudah masyarakat
akan mematuhinya dengan lebih mudah dan lebih eksplisit. Jika tuntutan
tidak jelas, maka tidak seorangpun yakin akan apa yang harus
dilakukannya. Keuntungan kedua, kualitas pelayanan yang diberikan oleh
fasilitator harus dipenuhi, dan fasilitator diberi umpan balik apabila
kinerja di bawah standar. Ketiga, karena masyarakat menjadi supervisor
dianggap masyarakat juga memiliki kekuatan yang sama untuk menghentikan
fasilitator yang tidak bekerja secara benar. Luar biasa!
Di
bawah ini kami ingin menerangkan apa artinya supervisi dan bagaimana
supervisi dapat diterapkan di lapangan. Contoh-contoh yang akan
dikemukakan ini dipilih dari kasus masyarakat yang telah menyepakati
akan menerima bantuan dari luar untuk melakukan sesuatu yang mereka
inginkan, seperti membangun jalan atau memperbaiki sekolah. Kasus ini
dapat diterapkan secara umum untuk semua masyarakat yang diberi
bimbingan, pelatihan, nasihat atau supervisi atas nama
suatu
organisasi. Mungkin ini juga bisa diterapkan untuk orang lokal yang
berperan seperti ini di masyarakat, seperti pegawai pemerintah setempat,
aparat yang terpilih, atau siapapun yang telah dipilih untuk
melaksanakan tugas kemasyarakatan.
APA ITU SUPERVISI?
Sebelum
kita membicarakan penerapan supervisi pada kegiatan sehari-hari, kita
perlu memberikan penjelasan tentang apa itu Supervisi. Supervisi bukan
berarti BOS atau memerintah atau sombong karena merasa paling tahu
segala sesuatu, meskipun kadang-kadang kita bisa melihat secara jelas
perilaku supervisor sejelek itu. Berusahalah untuk berpikir tentang
Supervisor yang baik yang pernah dialami masa lalu.
Adanya
Supervisi berarti kemungkinannya terdapat standar kinerja yang dapat
diterapkan oleh seseorang yang menjalankan suatu tugas. Tugas sangat
jelas, akan tetapi di lapangan kadang tugas tersebut tidak dapat
dilakukan sebagaimana seharusnya. Hal ini disebabkan mungkin si
penyandang tugas belum memahami akan tugasnya, atau kurang terampil,
atau bahkan malas, atau pun mungkin dia dengan sengaja bekerja dengan
salah (penjahat!).
Berdasarkan
hasil pengalaman di lapangan, mungkin setengah dari pekerja yang buruk
tidak menyadari atau tidak memperhatikan dirinya bahwa mereka bekerja
secara buruk. Sedangkan setengah dari sisanya mungkin mengabaikan
bagaimana bekerja secara benar, sehingga dengan demikian mereka dapat
dikategorikan sebagai pekerja yang tidak terampil. Sebagian lagi mungkin
masuk pada kategori pemalas, mereka tidak mau bekerja keras untuk
mecapai kinerja yang baik, ingin pulang cepat atau masuk ke kantor
terlambat atau selalu tertarik pada saat istirahat. Sisanya yang paling
sedikit dari kelompok adalah orang-orang yang tidak mau bekerja secara
baik karena mereka tidak memiliki keinginan untuk bekerja dengan baik,
mereka hanya tertarik pada keuntungan sendiri, siap untuk membohong atau
menipu untuk mencapai tujuannya.
Dalam
supervisi, seorang supervisor memutuskan apakah kinerja seseorang dapat
diterima dan dapat mengambil alih langkah untuk membuat kinerjanya
lebih baik. Langkah ini mungkin merupakan bagian dari persiapan, atau
pada saat melaksanakan kegiatan, atau setelah tugas dilaksanakan. Tujuan
utama dari supervisi adalah meningkatkan kinerja yang sedang
berlangsung atau kinerja ke depan.
Ada
orang yang memutuskan tugas mana saja harus dilaksanakan Fasilitator.
Masyarakat yang maju barangkali mampu melakukan ini sendiri, dan hal ini
bisa menjadi tujuan jangka panjang bagi masyarakat yang belum memiliki
pengetahuan dan pengalaman untuk menentukan uraian tugas seseorang yang
akan terkena Supervisi Terbalik. Untuk sementara bisa pakai daftar yang
disediakan.
Pada
sebuah proyek, para perancang biasanya mempersiapkan uraian tugas yang
harus dilakukan oleh orang-orang yang dikontrak oleh proyek untuk
memfasilitasi masyarakat. Fasilitator-fasilitator ini mungkin bekerja
secara langsung di lapangan atau mereka mungkin lebih senior dan diberi
tanggung jawab yang lebih tinggi mengawasi fasilitator-fasilitator yang
tingkatnya
lebih
rendah. Pada kedua kasus ini, ada beberapa tugas yang harus
dilaksanakan secara eksplisit, ditambah tugas-tugas umum yang mungkin
tidak tertulis.
Tugas-tugas
yang tertulis termasuk antara lain seperti: (1) memfasilitasi jenis
pertemuan tertentu, (2) membuat sketsa infrastruktur, (3) memberi
pelatihan kepada orang-orang tertentu, (4) memeriksa, atau (5) membuat
laporan. Fasilitator bertanggung jawab untuk melaksanakan tugas sesuai
tingkat kemampuan tertentu. Fasilitator disupervisi dari atas tentang
aspek-aspek yang terlihat atau terukur dari pekerjaannya.
Tugas-tugas
yang tidak tertulis termasuk tugas yang pasti dilakukan oleh
fasilitator, tetapi biasanya tidak tercantum dalam uraian tugas. Sebagai
contoh, seorang fasilitator harus bisa menjadi seorang pendengar yang
baik, sebab biasanya orang tidak selalu berbicara dengan jelas dan
langsung. Seorang fasilitator harus mampu menyelenggarakan pertemuan di
masyarakat atau lebih baik lagi mampu melatih masyarakat lokal untuk
menyelenggarakan pertemuan. Fasilitator harus mengubah tingkat percaya
diri seseorang dalam pengambilan keputusan. Fasilitator harus mampu
menarik orang untuk memfokuskan pada dampak jangka panjang dari apa yang
dilakukannya. Kemampuan fasilitator seperti tersebut di atas jarang
tertulis dalam uraian tugas sebuah proyek.
Mengetahui
segala hal yang harus dilakukan seorang hanya merupakan langkah pertama
yang harus dilakukan. Langkah berikutnya adalah pengukuran sesuatu yang
telah dilaksanakan. Pengukuran harus dilakukan dengan cara yang dapat
dilihat oleh siapapun yang memperhatikannya, supaya semua orang dapat
menyepakati apakah pekerjaan telah dilakukan. Jika pengamatan hanya
didasarkan pada pendapat saja, maka sebagai alat ukur kurang memiliki
bobot. Jadi, selama supervisi, kita harus membandingkan temuan tentang
kondisi aktual di lapangan dengan deskripsi yang ideal seperti yang
terdapat di dalam uraian tugas.
Jika
hasil pengamatan dan pendapat supervisor tidak dikomunikasi kepada
orang-orang yang disupervisinya, maka hal ini hanya percuma. Ada jenis
komunikasi khusus yang diberikan, yaitu umpan balik (feedback). Umpan
balik memberikan informasi tentang kinerja seseorang yang sedang
bekerja. Umpan balik mungkin positif karena semuanya sudah dilaksanakan.
Umpan balik mungkin negatif jika tidak dapat bekerja dengan baik.
Keduanya akan berguna agar seseorang yang menjalankan tugasnya menjadi
tahu apakah pekerjaannya bagus atau jelek, sehingga mereka dapat
meneruskan hal-hal yang baik atau mengubah pekerjaan yang buruk.
Langkah
selanjutnya dalam supervisi adalah menolong orang untuk mengoreksi atau
memperbaiki kinerjanya. Mereka yang disupervisi mungkin dapat
mengetahui apa yang perlu diubah hanya dari umpan balik, atau perlu
dibantu untuk menentukan apa yang harus dikoreksi atau dibenahi. Tugas
ini merupakan bagian dari supervisi. Umpan balik yang diberikan tanpa
memberikan koreksi akan menjadi sia-sia. Koreksi bisa diberikan pada
saat sedang ngobrol atau dalam tulisan ketika membuat rencana aksi
penyelesaian masalah - tergantung dari jenis masalah yang dihadapi,
seberapa serius potensi dari dampak masalahnya, dan karakter dan
pengalaman seseorang dalam menerima umpan balik.
Sanksi
barangkali merupakan hal yang penting dan perlu dalam supervisi,
tergantung dari sudut pandangnya. Apabila pekerjaan dilakukan tidak
benar, atau terutama jika orang tersebut tidak
melakukan
perbaikan dengan baik, maka kita harus melakukan sesuatu agar pelaku
pekerjaan tahu hal ini tidak dapat diterima. Jika tidak bisa diberikan
hukuman atau sanksi, maka masukan dari supervisor dapat dijadikan
sebagai informasi tambahan atau boleh juga diabaikan.
Beberapa
yang telah dijelaskan sebelumnya adalah supervisi secara umum, akan
tetapi hal-hal tersebut bisa juga diterapkan pada Supervisi Terbalik.
APA ITU SUPERVISI TERBALIK?
Supervisi
biasa terdapat pada kegiatan proyek-proyek atau di bidang ekonomi.
Seseorang melaksanakan supervisi dari atas dan memberikan penilaian
kepada orang-orang di bawahnya.
Bekerja
pada proyek pemberdayaan, sangat penting untuk kita mengingat siapa
saja orang-orang yang berada di tingkat atas. Jika masyarakat
betul-betul berdaya, maka masyarakatlah yang berada di atas untuk
melakukan supervisi. Masyarakat harus melakukan supervisi kepada
orang-orang yang memberikan bantuan teknis kepada masyarakat. Peraturan
supervisi yang baik semuanya sama, tetapi tidak dilakukan pada arah yang
sama.
Pada
bagian berikutnya, kita akan melihat apa saja yang dilakukan jika kita
melakukan Supervisi Terbalik. Ada enam (6) unsur yang telah
diidentifikasi pada saat Supervisi Terbalik diterapkan. Pada awalnya,
Supervisi Terbalik ini akan terlihat aneh, tetapi semakin kita memiliki
pengalaman maka akan semakin mudah dan sangat masuk akal.
MENERAPKAN SUPERVISI TERBALIK
Di
bawah ini, ada enam aspek dari kinerja ketika masyarakat dapat
menerapkan Supervisi Terbalik. Tiga hal mengacu pada tahapan proyek ((1)
kegiatan perencanaan, (2) kegiatan pelaksanaan, dan (3) kegiatan
pemeliharaan) dan tiga hal lain yang mengacu pada fungsi khusus: (4)
pengambilan keputusan, (5) pengendalian kualitas, dan (6) peningkatan
kemampuan. Prinsip-prinsip dasar dari ke enam hal tersebut akan
dijelaskan dengan contoh tentang pertanyaan apa yang bisa kita ajukan
kepada masyarakat tentang kinerja fasilitator. Yaitu pertanyaan dalam
huruf miring dan masuk merupakan pertanyaan tentang pekerjaan seorang
fasilitator, bukan pekerjaan masyarakat. Masyarakat adalah penilai
terbaik untuk menilai apakah kinerja fasilitator tersebut memiliki
kualitas "Sangat baik", "Memuaskan", "Tidak Memuaskan" atau "Buruk".
Pada
aspek-aspek tertentu supervisi seringkali diulang-ulang, karena sering
terjadi tumpang-tindih pekerjaan. Pengambilan keputusan dilakukan pada
tahap perencanaan, pelaksanaan dan pemeliharaan. Sedangkan peningkatan
kemampuan dilakukan pada setiap tahapan kegiatan. Pengendalian kualitas
dilakukan pada saat pelaksanaan, dan biasanya terjadi peningkatan
kemampuan. Tidak ada alasan untuk tidak mengulangi aspek dari sudut
pandangan yang sedikit berbeda.
Kinerja Dalam Perencanaan
Perencanaan
merupakan salah satu kegiatan dimana masyarakat membutuhkan masukan
dari fasilitator yang memberikan bantuan teknis. Bantuan ini diperlukan
untuk melanjutkan kegiatan-kegiatan perencanaan, untuk pemilihan anggota
masyarakat untuk menjalankan peran kepemimpinan, untuk menjamin bahwa
masyarakat lemah terlibat sebesar mungkin, untuk menjamin bahwa
perencanaan tidak didominasi oleh kelompok masyarakat elit, dan untuk
hal-hal yang berkaitan dengan teknis agar dapat dimengerti dan
dipertimbangkan secara layak selama tahap perencanaan.
Setiap
kegiatan masyarakat yang menerima bantuan dari luar masyarakat akan
mengikuti beberapa langkah tertentu untuk memulai pelaksanaan. Langkah
pertama adalah pengenalan (orientasi) yang harus dijalankan. Wakil dari
proyek atau program atau nara sumber lain akan memberikan penjelasan,
selanjutnya penjelasan ini akan disosialisasikan kepada masyarakat
banyak oleh orang-orang yang pertama kali memperoleh penjelasan. Masa
pengenalan ini merupakan awal dari bantuan teknis yang dapat
disupervisi.
Apakah acara orientasi sudah jelas dan dimengerti oleh semua orang yang hadir?
Selama
masa orientasi, apakah nara sumber menjawab pertanyaan dengan jelas dan
sabar? Mereka kelihatan tidak terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan
yang diajukan.
Apakah peserta memperoleh materi-materi yang dijelaskan sehingga dapat digunakan pada acara orientasi tingkat masyarakat?
Apakah
fasilitator menerangkan tentang bagaimana membimbing masyarakat agar
memahami program dan peran apa yang harus dilakukan oleh masyarakat?
Setelah
masa orientasi berakhir, atau sebagai bagian dari acara orientasi,
beberapa orang dari masyarakat akan dipilih untuk menjalankan peran atau
bekerja untuk menjalankan tugas-tugas khusus dari program tersebut.
Misalnya menjadi fasilitator lokal, anggota tim pelaksana, anggota tim
monitoring, anggota tim pemeliharaan, anggota tim pengadaan, dan
sebagainya. Pemilihan ini dapat dilakukan pada saat yang sama atau pada
waktu yang berbeda. Fasilitator yang menjalankan tugas dalam acara ini
yang harus disupervisi.
Apakah
fasilitator membantu untuk menjamin bahwa sebanyak mungkin orang dapat
terlibat dalam proses seleksi, baik sebagai anggota masyarakat maupun
sebagai calon pemegang peran?
Apakah penjelasan mengenai peran anggota masyarakat disampaikan secara jelas?
Apakah fasilitator memberikan penjelasan yang cukup menarik agar masyarakat mau terlibat dalam program?
Selama proses penjelasan berlangsung, apakah fasilitator bersikap netral dan tidak memihak pada calon-calon yang disukainya?
Setelah
tim diseleksi dan dilatih, masyarakat melaksanakan identifikasi
kebutuhannya dan prioritasnya, dengan menggunakan cara yang dijelaskan
oleh fasilitator. Cara ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk
menjelasankannya. Dalam acara ini masyarakat mungkin diajak berpikir
tentang kebutuhan dan prioritas masa yang akan datang. Selama proses ini
berlangsung,
masyarakat
dibimbing fasilitator, yang mempunyai peran yang sangat penting bagi
masyarakat. Di bawah ini ada tigas aspek utama yang harus disupervisi:
Apakah masyarakat menerima bantuan teknis untuk menjamin bahwa masyarakat lemah dapat terlibat dalam proses perencanaan?
Apakah fasilitator menjamin bahwa program ini bukan untuk kepentingan kelompok masyarakat elit?
Apakah
fasilitator bersikap positif tentang proses perencanaan, sehingga
masyarakat dapat menerima proses perencanaan yang membutuhkan waktu yang
lebih lama daripada yang dibayangkkannya?
Akhirnya,
proses perencanaan ini akan menghasilkan pilihan-pilihan serta
dokumentasi yang dibutuhkan untuk mendukung tahap pelaksanaan. Ada
beberapa cara mengatur kegiatan ini, akan tetapi bantuan teknis yang
memfasilitasikan ini selalu membutuhkan supervisi. Misalnya, fasilitator
mungkin membuat dokumen perencanaan, atau mungkin tidak. Ada berbagai
cara membuat proposal, atau perencanaan dapat diperiksa dan disetujui.
Apakah fasilitator melibatkan masyarakat sebanyak mungkin pada kegiatan melakukan survei, mengukur, menggambar dan menghitung?
Apakah
beberapa alternatif teknis disebutkan dan diterangkan oleh fasilitator,
kemudian diskusikan dan diputuskan oleh masyarakat?
Apakah fasilitator menjelaskan dengan sabar bahwa fasilitator terbuka untuk menerima perubahan?
Bagaimana keterlibatan masyarakat dalam penyelesaian masalah jika terdapat masalah teknis selama perencanaan?
Apakah fasilitator menjamin bahwa desain dan keuangan dimengerti oleh tim dan fasilitator desa, siapapun yang merancangnya?
Apakah desain akhir dan anggaran dijelaskan dan didiskusikan bersama masyarakat sebelum penyerahan akhir?
Apakah
desain, anggaran dan dokumen-dokumen perencanaan lainnya lebih baik
dibandingkan dengan kualitasnya pada pelaksanaan program lain, menurut
pengalaman masyarakat?
Kinerja Pengambilan Keputusan
Anggota
masyarakat yang memiliki dedikasi untuk memberdayakan masyarakat akan
terlibat dalam pengambilan keputusan, karena masyarakatlah yang memiliki
keputusan. Fasilitator bukan pengambil keputusan. Pemerintah bukan
pengambil keputusan. Walaupun demikian fasilitator dapat disupervisi
untuk menjamin bahwa masyarakat mengambil keputusan secara berdaya,
transparan, dan partisipatif.
Apakah terlihat jelas fasilitator mempercayai masyarakat yang memiliki keputusan?
Apakah fasilitator menjaga sikap netral, nampak tidak berpihak pada salah satu alternatif?
Apakah fasilitator menyediakan materi-materi, fakta dan peraturan sebagai bahan masukan dalam proses pembuatan keputusan?
Andaikata
masyarakat ingin melakukan sesuatu yang tidak layak secara teknis atau
melanggar aturan proyek, apakah fasilitator menjelaskan tentang
kelayakan teknis atau aturan proyek agar hal tersebut dapat diterima
oleh masyarakat sebagai bagian dari sistem?
Bagian
ke dua dari pengambilan keputusan adalah memfasilitasi pertemuan pada
saat pengambilan keputusan. Ini merupakan tugas fasilitator yang sangat
penting, sehingga masyarakat harus mengawasinya. Ada panduan yang sangat
jelas tentang bagaimana melaksanakan pertemuan secara efektif dan
fasilitator harus mampu melaksanakannya.
Apakah fasilitator membantu pemimpin masyarakat menentukan bagaimana meningkatkan kehadiran dalam pertemuan umum?
Apakah
fasilitator berusaha khusus agar anggota-anggota masyarakat yang lemah
dan terutama kelompok perempuan diundang hadir dalam pertemuan
pengambilan keputusan?
Apakah fasilitator tidak berbicara terlalu banyak, tanpa mempersilakan orang-orang untuk berpartisipasi aktif dalam pertemuan?
Apakah fasilitator tidak berpihak pada salah satu kelompok atau pilihan, sehingga dianggap sebagai orang netral?
Apakah
fasilitator membantu menyelesaikan masalah selama pertemuan, misalnya:
tidak membiarkan orang mendominasi dalam pertemuan, kurang perhatian
kepada pembicara, gangguan logistik, pembicara tidak mengikuti topik,
kurang mampu mengatur waktu, atau ketika menghadapi situasi-situasi yang
tidak menyenangkan?
Apakah fasilitator dapat menjawab pertanyaan tentang peraturan proyek atau hal-hal teknis selama pertemuan, tanpa ditunda-tunda?
Apakah fasilitator memeriksa dokumen hasil dari pertemuan dan memberi umpan balik tentang akurasi keputusan yang sudah dicatat?
Kinerja Dalam Pelaksanaan
Kegiatan
pelaksanaan merupakan waktu yang paling sibuk bagi fasilitator. Ada
banyak aspek pelaksanaan yang perlu dibantu agar masyarakat dapat
melaksanakannya dengan baik. Pertama, ada persoalan teknis yang mungkin belum dikenal masyarakat. Kedua, ada
bermacam-macam peraturan pada tiap-tiap proyek, antara lain aturan
pendanaan, pengadaan materi, hak-hak, penggunaan alat berat dan
pemborong, penanganan keluhan, dan pemeliharaan. Ketiga, masyarakat harus diberikan pelatihan administrasi dan manajemen. Keempat, masyarakat memperoleh metode memberi dan menerima umpan balik.
Peraturan
dan spesifikasi teknis merupakan bagian yang termudah dari peran
fasilitator, karena fasilitator sudah diakui menguasai kedua hal itu
dibandingkan masyarakat. Fasilitator harus mengikuti beberapa aturan
sederhana pada pemberian saran teknis, agar masyarakat dapat melakukan
supervisi.
Apakah
fasilitator menjelaskan alasan untuk memilih alternatif metode teknis,
sehingga masyarakat mengerti dan dapat mengambil keputusan yang sama
pada masa yang akan datang?
Apakah
fasilitator menerangkan hal-hal kunci teknis yang dapat menghasilkan
kualitas lebih baik dan lebih efisien dalam menggunakan bahan-bahan?
Apakah
fasilitator mengerti isu-isu teknis yang berhubungan dengan kegiatan
yang sedang berlangsung, sehingga fasilitator dapat bertindak sebagai
nara sumber?
Apakah
fasilitator mengatakan "SAYA TIDAK TAHU" ketika isu-isu di luar
keahliannya, (daripada fasilitator pura-pura mengetahui segalanya)?
Apakah fasilitator mencari pertolongan orang luar untuk membantu kegiatan-kegiatan di luar keahliannya?
Fasilitator
seharusnya menguasai seluruh aturan dan persyaratan proyek. Masyarakat,
kemudian belajar mengenal aturan-aturan proyek dari fasilitator.
Mengapa hal ini penting? Setiap proyek dan kegiatan rutin memiliki
sejumlah aturan yang harus diikuti oleh pelaksana, dan ini termasuk
bagaimana memperoleh dana, bagaimana mempertanggungjawabkan dana,
kegiatan apa saja diperbolehkan, langkah-langkah apa saja yang harus
dilakukan untuk melakukan sesuatu, apa saja yang tidak boleh dilakukan,
dan laporan seperti apa yang dibutuhkan. Satu-satunya cara untuk menolak
peraturan adalah dengan menolak apa saja yang ditawarkan. Fasilitator
dikontrak untuk membantu masyarakat mentaati peraturan.
Apakah fasilitator menerangkan peraturan dengan sabar kapan saja dibutuhkan?
Apakah
fasilitator menerangkan kepada pemimpin masyarakat alasan-alasan
peraturan sehingga mudah dipahami oleh anggota masyarakat?
Apakah
fasilitator mengetahui dan menguasai seluruh peraturan, sehingga jika
banyak pertanyaan yang diajukan maka dengan cepat fasilitator dapat
menjawabnya dan tidak menunda-nunda jawabannya
Apakah
fasilitator menunjukkan sikap positif terhadap peraturan; tidak
mengeluhkan peraturan terhadap masyarakat, yang menyebabkan kehilangan
kepercayaan dirinya.
Jika
masyarakat kelihatan mempunyai alasan kuat untuk minta mengabaikan
suatu aturan, apakah fasilitator membantu mereka mengumpulkan seluruh
informasi yang dibutuhkan sebelum permohonan diajukan?
Salah
satu hal yang membutuhkan perhatian khusus oleh fasilitator dalam
pelaksanaan adalah manajemen proyek dan administrasi, sebab masukan dari
fasilitator sangat dibutuhkan oleh masyarakat dalam mengelola kegiatan
secara efektif dan efisien. Alokasi dan penggunaan dari seluruh sumber
termasuk ke dalam manajemen untuk mencapai tujuan. Sumber-sumber
tersebut termasuk di dalamnya pendanaan, tenaga kerja, lahan,
bahan-bahan, alat-alat dan pengetahuan serta keahlian. Manajemen akan
dipercayakan kepada tim khusus atau pada organisasi yang ada di
masyarakat. Ada beberapa kegiatan tertentu dalam manajemen dan
administrasi yang perlu disupervisi oleh masyarakat.
Apakah fasilitator menjelaskan seluk-beluk adminstrasi disertai dengan contoh-contohnya?
Apakah fasilitator sering memeriksa catatan dan memberikan umpan balik ketika ditemukan kesalahan?
Apakah fasilitator memberikan saran yang jelas tentang bagaimana memperbaiki manajemen kegiatan?
Apakah
fasilitator memberikan komentar tertulis kepada masyarakat tentang
kinerjanya, sehingga pekerjaan fasilitator dalam meningkatkan masyarakat
dapat diperiksa dari tingkat yang lebih atas?
Apakah masyarakat didorong oleh fasilitator untuk memanfaatkan cara menerima keluhan dari masyarakat umum?
Apakah fasilitator memberikan respons secara cepat jika menerima informasi tentang masalah-masalah yang dihadapi?
Apakah
fasilitator memperhatikan papan informasi proyek dan memberikan umpan
balik serta saran tentang bagaimana masyarakat dapat meningkatkan
transparansi manajemen dan administrasi?
Apakah
fasilitator membantu masyarakat mempersiapkan diri untuk diaudit,
melalui pemeriksaan, mendorong pra-audit, dan menerangkan sifat audit
kepada masyarakat?
Pada
hampir setiap bagian di atas, tugas seorang fasilitator termasuk
pemberian umpan balik, sehingga fungsi umpan balik harus diberikan
perhatian khusus selama supervisi. Kualitas dan jumlah umpan balik
sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat. Ada beberapa
aturan dalam memberikan umpan balik yang harus menjadi bagian dari
supervisi oleh masyarakat.
Apakah umpan balik sering diberikan oleh fasilitator setelah fasilitator mengamati keadaan di lapangan dan di kantor?
Apakah umpan balik diberikan langsung pada saat kegiatan dievaluasi?
Apakah
umpan balik positif dan umpan balik negatif diberikan, untuk
memperbaiki kinerja yang buruk atau mememlihara kinerja yang sudah baik?
Apakah umpan balik diberikan secara spesifik? Kinerja Dalam Pengendalian Kualitas
Pengendalian
kualitas adalah salah satu kegiatan penting yang harus dilakukan
fasilitator, terutama bagi fasilitator teknis. Kebetulan, pengendalian
proyek merupakan kegiatan yang baru bagi masyarakat, karena belum
mempunyai pengalaman. Pada beberapa proyek banyak anggota masyarakat
berpikir bahwa infrastruktur harus dibangun dan diselesaikan secepat
mungkin. Seringkali diberikan sanksi jika terjadi keterlambatan, tetapi
tidak ada sanksi jika kualitas pekerjaan buruk. Fasilitator harus
memikirkan bagaimana agar masyarakat tertarik atas kualitas. Peran
masyarakat adalah untuk menjamin bahwa fasilitator melalukan kegiatan
pengendalian kualitas.
Apakah fasilitator membuat "trial" atau
uji coba pekerjaan secara langsung, sehingga anggota masyarakat bisa
melihat tahapan kerja untuk menghasilkan kualitas yang baik?
Apakah fasilitator memeriksa kualitas pekerjaan yang dilakukan masyarakat secara mendetail?
Apakah masyarakat diberi umpan balik tentang kualitas pekerjaannya?
Apakah fasilitator menghindari keluhan tentang kualitas tanpa menjelaskan apa yang salah dan yang benar?
Apakah fasilitator menindaklanjuti umpan balik untuk melihat bagaimana pekerjaan dilaksanakan?
Apakah fasilitator kelihatan tidak sanggup menerima kualitas yang rendah?
Kinerja Dalam Peningkatan Kemampuan
Salah
satu fungsi utama fasilitator dalam proyek pemberdayaan adalah untuk
meningkatkan keterampilan dan pengetahuan anggota masyarakat, khususnya
tim yang dipercaya melaksanakan manajemen pekerjaan. Peningkatan
kemampuan melibatkan berbagai macam pelatihan: pelatihan pratugas,
pelatihan dalam tugas (In-Service Training), pelatihan di lapangan (On-the-Job Training), seminar,
studi banding dan lain-lainnya. Pekerjaan-pekerjaan ini sangat penting
untuk disupervisi masyarakat. Topik ini akan dibagi dua. Bagian pertama,
untuk meningkatkan kemampuan tim pelaksana dan anggota masyarakat lain
yang mendukung fungsi pelaksanaan. Bagian kedua, kemampuan jangka
panjang akan dikembangkan oleh orang-orang muda yang menjadi fasilitator
di dalam masyarakat.
Dalam pelatihan tim, fasilitator berperan sebagai pelatih dan harus disupervisi apakah pelatihan sesuai dengan kebutuhan.
Apakah fasilitator menerangkan tujuan pelatihan secara jelas?
Apakah fasilitator mempersiapkan materi-materi pelatihan dan jadwal secara profesional?
Apakah pelatihan dilaksanakan secara partisipatif?
Apakah fasilitator menemukan banyak kesempatan untuk melakukan latihan di lapangan (OJT) bersama tim?
Apakah fasilitator mampu menjelaskan kata-kata kunci dengan jelas sehingga peserta cepat mengerti?
Apakah fasilitator menggunakan macam-macam metode sehingga pelatihan lebih menarik?
Apakah setelah pelatihan fasilitator menindaklanjuti kegiatan sehingga bisa diketahui seberapa besar peningkatan kemampuan tim?
Apakah fasilitator meminta umpan balik tentang bagaimana kemampuan dia sebagai pelatih?
Fasilitator
harus memberikan perhatian khusus pada pelatihan siapapun yang terpilih
sebagai kader, karena ini merupakan harapan jangka panjang untuk
peningkatan kemampuan masyarakat. Kader harus mampu meniru tugas-tugas
fasilitator. Walaupun salah satu cara yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan kemampuan kader adalah dengan membaca buku dan belajar di
luar, nasib kader sering berada di tangan fasilitator.
Apakah kader merasa menerima perhatian khusus dari fasilitator?
Apakah fasilitator memanfaatkan setiap kesempatan untuk memberi pelatihan (In-Service Training) untuk kader?
Apakah fasilitator mengatur pertemuan lintas masyarakat, sehingga kader dapat menukar pengalaman?
Apakah fasilitator melibatkan kader pada seluruh latihan di lapangan (OJT)?
Apakah fasilitator mengetahui kekuatan dan kelemahan tiap orang kader?
Apakah fasilitator memberi umpan balik kepada setiap kader tentang kemajuan keterampilan yang dimilikinya?
Apakah fasilitator menanamkan karakter disiplin, kesabaran dan gemar belajar?
Kinerja Dalam Pemeliharaan
Pemeliharaan
merupakan kegiatan terakhir proyek, tetapi merupakan pengalaman harian
bagi masyarakat yang bertanggung jawab terhadap infrastruktur yang
mereka miliki. Keuntungan jangka panjang dari kegiatan, adalah sebagian
karena desain yang baik, dan sebagian karena pelaksanaan yang baik, dan
sebagian juga karena pemeliharaan yang dilakukan selama beberapa tahun.
Fasilitator harus mempersiapkan masyarakat untuk pemeliharaan, melalui
peningkatan keterampilan dan pengetahuan dan terutama melalui perubahan
pada sudut pandang.
Apakah fasilitator menjelaskan peran masyarakat dalam pemeliharan di hadapan masyarakat banyak?
Apakah fasilitator membantu masyarakat dalam rencana pemeliharaan?
Apakah fasilitator memberikan pelatihan pada aspek rencana pemeliharaan, survei, pelaksanaan, dan pelaporan?
Apakah fasilitator sering mengunjungi lokasi yang sudah lama selesai untuk mengevaluasi kualitas pemeliharaan?
Apakah fasilitator memberi umpan balik dan saran ketika pemeliharaan lemah?
BAGAIMANA MEMULAI SUPERVISI TERBALIK?
Ada
hanya dua hal penting bagaimana bisa memulai Supervisi Terbalik, yaitu
perubahan sudut pandang dan mekanisme. Penjelasan tentang supervisi
telah dijelaskan pada bagian awal: masyarakat memiliki pekerjaan, dan
seseorang yang dikontrak sebagai fasilitator.
Melakukan
Supervisi Terbalik membutuhkan adanya perubahan sudut pandang tentang
peran fasilitator sebagai seseorang yang dikontrak untuk membantu
masyarakat mencapai tujuannya. Masyarakat sendiri harus memperlihatkan
kesabaran untuk membangun hubungan baru, karena kedua belah pihak
membutuhkan waktu untuk saling menyesuaikan diri. Juga sebagian dari
masyarakat harus mau belajar keterampilan baru. Selain itu pula
dibutuhkan masyarakat yang menuntut kinerja fasilitator, yang juga
merupakan pengalaman baru bagi keduanya.
Pada
waktu yang bersamaan, masyarakat harus menyadari bahwa supervisi
berjalan pada kedua arah. Hampir pasti, seorang fasilitator melakukan
supervisi sebagai bagian dari pekerjaannya. Dan sekarang kita memahami
bahwa fasilitator juga harus disupervisi.
Mekanisme
apa saja yang sesuai untuk supervisi? Ada banyak kemungkinan, tetapi
tidak ada aturan yang pasti. Beberapa isu-isu kunci dibahas di bawah ini
sebagai panduan.
• Seseorang
atau beberapa kelompok harus bertindak atas nama masyarakat. Idealnya
akan banyak orang-orang yg memiliki keberanian yang cukup untuk
melalukan supervisi fasilitator. Jika hanya satu atau dua orang
terpilih, maka kadang-kadang supervisi akan tertunda. Tetapi sebalik
juga susah, jika banyak orang menuntut maka fasilitator tidak memiliki
waktu untuk melayani semuanya.
• Orang
yang akan melakukan supervisi harus dilatih tentang bagaimana
supervisi. Supervisi dapat dipelajari dengan membaca buku saku, tetapi
biasanya masyarakat membutuhkan pelatihan karena umumnya masyarakat
tidak belajar dengan membaca.
• Pelatihan
harus diberikan oleh seseorang di luar "garis komando," karena
seseorang yang berada dalam garis komando dalam memberikan pelatihan
mungkin hubungannya akan menjadi kaku. Kelas akan merasakan hambatan
dalam mengajukan pertanyaan jika pelatih akan melakukan supervisi atas
masyarakat atau pelatih akan disupervisi oleh anggota kelas.
• Supervisi
dapat dilakukan kapan saja ketika dibutuhkan. Pada kejadian-kejadian
insidental, masyarakat bisa menggunakan catatan masalah dan
saran-sarannya
• Secara
internal masyarakt dapat menilai kinerja fasilitator kemudian
mendiskusikan hasilnya dengan fasilitator, dan pada kasus ini ada
manfaatnya menggunakan ceklis seperti yang terlampir pada Appendix A. Pada beberapa item yang membutuhkan perhatian khusus, masyarakat harus memiliki contoh-contoh spesifik yang telah diidentifikasi dan dipersiapkan.
• Kemungkinan akan ada dampak yang tidak diharapkan jika ceklis atau
semacam dokumen tertulis yang didasarkan pada hasil supervisi menjadi
bagian dari sistem monitoring atau evaluasi personil. Jika kerahasiaan
dijaga antara yang disupervisi dan supervisor, evaluasi akan lebih jujur
dan berguna.
• Tentu
saja, jika kinerja amat buruk, masyarakat membutuhkan pertolongan dari
atasannya fasilitator. Supervisi hanya akan berguna pada orang-orang
yang peduli tentang kinerja.
Topik
terakhir mengangkat tentang satu isu penting. Beberapa orang mungkin
akan mengatakan bahwa supervisi yang dilakukan masyarakat hanya tipuan
saja, karena masyarakat tidak memiliki kekuatan untuk memberhentikan
fasilitator yang mempunyai kinerja buruk. Hal ini menjadi hal serius
yang perlu dipertimbangkan oleh siapapun yang bertanggung jawab untuk
memberi
tugas kepada fasilitator. Hal ini dituntut komitmen dari mereka untuk
bertindak sesuai dengan hasil supervisi dari masyarakat, seolah
fasilitator dinilai oleh atasan langsung.
Supervisi
adalah hal yang berbeda dengan evaluasi atau pun pemantauan, dua
kegiatan yang mengumpulkan data dari lapangan, mungkin untuk mengubah
sesuatu di lapangan. Khusus supervisi, perubahan selalu dilakukan
berdasarkan hasil supervisi - perubahan dalam perilaku fasilitator.
Kalimat tentang kinerja tiak merupakan indikator, melainkan merupakan
instruksi untuk bekerja dengan cara tertentu. Kalimat ini harus dianggap
berasal dari atasan tertinggi. Sebenarnya memang dari sana.
SIMPULAN
Supervisi
Terbalik oleh masyarakat adalah akibat langsung dari hubungan antara
masyarakat yang berdaya dan fasilitatornya. Supervisi Terbalik akan
meningkatkan kualitas pekerjaan fasilitator, karena mereka akan diberi
umpan balik yang tajam bila kinerja di bawah standar. Pada saat yang
sama, Supervisi Tidak Terbalik yang dilakukan oleh fasilitator juga akan
diperbaiki sebagai dampak dari umpan balik yang diberikan dan juga dari
upaya melakukan supervisi yang tidak kalah dengan supervisi yang
dilakukan oleh masyarakat. Hal ini akan langsung mempengaruhi kualitas
pekerjaan oleh masyarakat.
Agar
supervisi efektif, juga harus membedakan antara supervisi dan
pembimbingan. Supervisi memang mirip dengan pembimbingan, akan tetapi
supervisi selalu berhubungan dengan kinerja akhir yang diinginkan, hasil
nyata, dan dampak. Tujuan pembimbingan adalah untuk meningkatkan
kinerja mereka, akan tetapi ada hasil yang harus dicapai.
Apakah Supervisi Terbalik bisa terjadi seperti boomerang? Tentu
saja. Jika anggota masyarakat selalu memberi umpan balik negatif kepada
fasilitator, dia akan patah semangat dan menjadi tidak antusias bekerja
pada lokasi ini. Fasilitator seperti manusia lain, dan masyarakat akan
lebih efektif bila khabar negatif dicicil, dan diselang-salingi dengan
kata terima kasih dan umpan balik positif jika ada pekerjaan yang
berhasil. Supervisi Terbalik sendiri seharusnya bisa melihat apakah
semangat fasilitator sudah mulai berkempis, kecuali fasilitator tersebut
memang perlu peringatan keras.
0 Response to "Supervisi Terbalik dalam Pemerdayaan Masyarakat "
Posting Komentar